Kontributor Utama : Dr. George Ade Novra Sitanaya, SpM
Perangkat seperti Pentacam, Sirius, dan Galilei menghasilkan berbagai parameter numerik yang membantu dokter mata dalam menilai kondisi kornea, mendeteksi kelainan ektatik, menentukan kelayakan tindakan bedah refraktif, serta mengevaluasi perubahan kornea pascaoperasi.
Namun, banyaknya angka yang dihasilkan sering kali menjadi tantangan tersendiri dalam interpretasi. Tidak semua angka memiliki makna klinis yang sama, dan satu parameter yang berada di luar rentang normal tidak selalu menunjukkan adanya kelainan patologis.
Oleh karena itu, pemahaman terhadap parameter numerik dalam tomografi kornea menjadi dasar penting untuk menghasilkan keputusan klinis yang tepat.
1. Keratometry: Mengukur Kelengkungan Kornea
Keratometri merupakan salah satu parameter dasar dalam pemeriksaan tomografi kornea. Nilai keratometri menggambarkan kekuatan refraksi kornea, umumnya dinyatakan dalam satuan dioptri (D).
Beberapa parameter yang sering ditemukan meliputi:
Pada populasi normal, nilai keratometri umumnya berada pada kisaran 40–48 D, meskipun rentang tersebut bukan merupakan batas diagnostik absolut.
Kmax memiliki peran penting dalam evaluasi keratokonus dan pemantauan progresivitas ektasia. Nilai Kmax yang meningkat dapat menunjukkan adanya penonjolan lokal pada kornea. Namun, Kmax tidak boleh digunakan sebagai satu-satunya indikator diagnosis maupun progresivitas keratokonus.
Selain itu, perlu dipahami bahwa Kmax berbeda dari K2. K2 merepresentasikan kekuatan meridian utama yang paling curam, sedangkan Kmax menunjukkan nilai maksimum lokal pada peta kelengkungan.
2. Pachymetry: Lebih dari Sekadar Ketebalan Kornea
Pachymetry merupakan pengukuran ketebalan kornea dalam satuan mikrometer (µm).
Parameter yang umum digunakan antara lain:
Ketebalan kornea sentral pada populasi sehat umumnya berkisar sekitar 520–550 µm, dengan variasi yang dipengaruhi oleh populasi dan metode pemeriksaan.
Dalam evaluasi bedah refraktif, ketebalan kornea menjadi faktor penting untuk memperkirakan keamanan jaringan setelah tindakan. Namun, kornea yang tebal tidak selalu berarti aman, sebagaimana kornea yang relatif tipis tidak selalu menunjukkan keratokonus.
Distribusi ketebalan kornea sering kali memberikan informasi yang lebih bermakna dibandingkan satu nilai ketebalan sentral.
Pada keratokonus, penipisan kornea sering kali disertai distribusi ketebalan yang abnormal, termasuk peningkatan ketebalan yang lebih cepat dari titik tertipis menuju perifer.
Average Progression Index (Avg PI): Memahami Distribusi Ketebalan Kornea
Average Progression Index (Avg PI) merupakan salah satu parameter tomografi kornea yang menggambarkan pola peningkatan ketebalan kornea dari titik tertipis menuju bagian perifer. Parameter ini termasuk dalam kelompok Pachymetric Progression Indices (PPI) dan memiliki peran penting dalam mendeteksi perubahan struktur kornea, khususnya pada skrining keratokonus dan ektasia kornea.
Pada kornea normal, ketebalan kornea umumnya meningkat secara bertahap dari bagian sentral menuju perifer. Sebaliknya, pada kornea dengan kecenderungan ektasia, peningkatan ketebalan dari titik tertipis menuju perifer dapat berlangsung lebih cepat dan menunjukkan distribusi yang tidak normal.
Dalam pemeriksaan Pentacam, terdapat tiga parameter utama Pachymetric Progression Indices:
PPI Avg menggambarkan rerata progresi ketebalan kornea berdasarkan analisis berbagai meridian dari titik tertipis menuju perifer.
Pada populasi kornea normal, PPI Avg umumnya berada di sekitar 1,0. Nilai yang lebih tinggi menunjukkan peningkatan ketebalan kornea menuju perifer yang relatif lebih cepat.
Sebagai panduan klinis, nilai PPI Avg di atas sekitar 1,2 dapat meningkatkan kecurigaan terhadap distribusi ketebalan yang abnormal. Namun, nilai ini bukan merupakan batas diagnostik universal dan harus diinterpretasikan berdasarkan perangkat, basis data normatif, serta parameter tomografi lainnya.
PPI Avg yang meningkat tidak secara otomatis menunjukkan keratokonus, tetapi dapat menjadi salah satu indikator awal adanya perubahan distribusi pachymetry yang berkaitan dengan ektasia kornea.
Selain PPI Avg, parameter lain yang berkaitan erat adalah Ambrósio Relational Thickness (ART), khususnya ARTmax. Parameter ARTmax menghubungkan ketebalan kornea pada titik tertipis dengan nilai PPI Max.
Secara umum, kornea dengan ketebalan yang relatif rendah disertai progresi pachymetry yang cepat akan menghasilkan nilai ARTmax yang lebih rendah. Kombinasi tersebut dapat meningkatkan kecurigaan terhadap keratokonus atau kerentanan ektasia.
Dalam evaluasi kandidat bedah refraktif, PPI Avg menjadi parameter pelengkap yang penting karena ketebalan kornea sentral yang normal belum tentu mencerminkan distribusi ketebalan yang normal.
Sebagai contoh, pasien dengan ketebalan kornea 550 µm tetapi memiliki PPI Avg yang meningkat, elevasi posterior abnormal, dan indeks ektasia yang mencurigakan tetap memerlukan evaluasi lebih lanjut sebelum dipertimbangkan untuk menjalani LASIK atau SMILE.
Dengan demikian, PPI Avg membantu dokter mata menilai bukan hanya seberapa tebal kornea, tetapi bagaimana ketebalan tersebut terdistribusi dari pusat menuju perifer.
3. Corneal Elevation: Memahami Permukaan Anterior dan Posterior
Salah satu keunggulan tomografi dibandingkan topografi konvensional adalah kemampuannya mengevaluasi elevasi permukaan anterior dan posterior kornea.
Elevasi kornea biasanya dinyatakan dalam mikrometer (µm) dan dihitung relatif terhadap suatu permukaan referensi, seperti Best Fit Sphere (BFS).
Nilai elevasi positif menunjukkan bahwa permukaan kornea berada di depan permukaan referensi, sedangkan nilai negatif menunjukkan posisi di belakang permukaan referensi.
Dalam skrining keratokonus, elevasi posterior menjadi salah satu parameter penting karena perubahan pada permukaan posterior dapat ditemukan pada kornea dengan kelainan ektatik dini.
Sebagai contoh, beberapa pendekatan skrining menggunakan nilai elevasi posterior sekitar 15–20 µm sebagai area yang memerlukan perhatian lebih lanjut. Namun, nilai tersebut tidak dapat dijadikan batas universal karena bergantung pada perangkat, diameter zona analisis, jenis permukaan referensi, serta lokasi pengukuran.
Interpretasi elevasi harus selalu dikombinasikan dengan peta kelengkungan, distribusi ketebalan, dan parameter tomografi lainnya.
4. Asphericity (Q Value): Menggambarkan Bentuk Kornea
Kornea normal umumnya memiliki bentuk prolate, yaitu lebih curam pada bagian sentral dan semakin datar menuju perifer.
Bentuk ini dapat dijelaskan menggunakan parameter asphericity atau Q value.
Secara umum:
Nilai Q pada kornea anterior normal sering ditemukan sekitar −0,20 hingga −0,30, meskipun terdapat variasi antarindividu dan perbedaan berdasarkan zona pengukuran.
Pada tindakan koreksi miopia menggunakan LASIK atau SMILE, bagian sentral kornea mengalami pendataran sehingga nilai Q dapat bergeser menjadi lebih positif.
Perubahan asphericity ini dapat berhubungan dengan peningkatan aberasi sferis dan perubahan kualitas penglihatan, terutama pada kondisi pupil yang lebih besar.
Oleh karena itu, Q value tidak hanya menggambarkan bentuk geometris kornea, tetapi juga memiliki relevansi terhadap kualitas optik setelah bedah refraktif.
5. Corneal Aberrations: Menilai Kualitas Optik Kornea
Tomografi kornea modern dapat menyediakan analisis aberasi kornea berdasarkan rekonstruksi permukaan kornea.
Aberasi biasanya dinyatakan dalam satuan mikrometer (µm) menggunakan koefisien Zernike.
Beberapa parameter yang penting meliputi:
Coma (Z3±1)
Coma merupakan aberasi orde ketiga yang dapat menyebabkan distorsi gambar menyerupai ekor komet. Peningkatan coma, terutama vertical coma, sering ditemukan pada keratokonus dan dapat terjadi pada ablasi refraktif yang mengalami desentrasi.
Spherical Aberration (Z4⁰)
Aberasi sferis merupakan aberasi orde keempat yang berhubungan dengan perbedaan fokus antara sinar yang melewati bagian sentral dan perifer sistem optik.
Pada koreksi miopia dengan laser, spherical aberration kornea sering mengalami pergeseran ke arah positif.
Higher-Order Aberration RMS (HOA RMS)
HOA RMS menggambarkan besarnya keseluruhan aberasi orde tinggi dalam zona analisis tertentu.
Nilai HOA RMS harus selalu diinterpretasikan dengan memperhatikan diameter pupil atau zona analisis. Sebagai contoh, HOA RMS pada diameter 6 mm tidak dapat dibandingkan secara langsung dengan hasil pada diameter 4 mm.
Tidak terdapat satu nilai normal universal yang berlaku untuk semua perangkat dan semua diameter pengukuran.
Trefoil (Z3±3)
Trefoil merupakan salah satu higher-order aberrations (HOA) orde ketiga yang memiliki pola aberasi dengan simetri tiga arah (threefold symmetry). Pada representasi wavefront, trefoil membentuk pola menyerupai tiga daun atau tiga lobus yang tersusun mengelilingi pusat optik.
Secara matematis, trefoil direpresentasikan oleh dua komponen koefisien Zernike, yaitu Z3⁻³ dan Z3³, yang menggambarkan orientasi berbeda dari aberasi tersebut.
Trefoil dapat ditemukan pada kornea normal dalam jumlah kecil. Namun, peningkatan trefoil dapat terjadi akibat ketidakteraturan permukaan kornea, termasuk pada keratokonus, jaringan parut kornea, serta perubahan bentuk kornea setelah tindakan bedah refraktif.
Pada pasien pasca LASIK atau SMILE, peningkatan trefoil dapat berhubungan dengan perubahan regularitas permukaan kornea atau proses penyembuhan jaringan yang tidak seragam. Meskipun demikian, trefoil bukan merupakan indikator spesifik terjadinya desentrasi zona optik.
Secara klinis, peningkatan trefoil dapat berkontribusi terhadap penurunan kualitas penglihatan, termasuk munculnya keluhan glare, halos, dan monocular ghosting, terutama pada kondisi pencahayaan rendah ketika diameter pupil membesar.
Berbeda dengan coma yang menghasilkan distorsi asimetris menyerupai ekor komet, trefoil menghasilkan distorsi optik dengan pola tiga arah. Pengaruhnya terhadap kualitas penglihatan bergantung pada besar aberasi, diameter pupil, serta interaksinya dengan aberasi lainnya.
Interpretasi trefoil sebaiknya dilakukan dengan memperhatikan nilai koefisien Zernike individual, besarnya trefoil RMS, dan diameter zona analisis. Trefoil RMS dapat dihitung dari akar jumlah kuadrat kedua komponen trefoil.
Dalam evaluasi bedah refraktif, trefoil merupakan parameter tambahan untuk menilai kualitas optik kornea, tetapi tidak dapat digunakan secara independen untuk menentukan keberhasilan operasi maupun mendeteksi desentrasi zona optik.
6. Indeks Ektasia: Ketika Beberapa Angka Digabungkan
Untuk meningkatkan kemampuan deteksi keratokonus, berbagai perangkat tomografi mengembangkan indeks yang menggabungkan sejumlah parameter.
Salah satu contoh adalah Belin/Ambrósio Enhanced Ectasia Display (BAD) pada Pentacam.
Parameter BAD-D merupakan indeks deviasi komposit yang mempertimbangkan beberapa aspek, termasuk elevasi anterior dan posterior serta distribusi pachymetry.
Secara umum, interpretasi BAD-D yang sering digunakan adalah:
|
BAD-D |
Interpretasi |
|
< 1,6 |
Dalam batas normal |
|
1,6 hingga < 2,6 |
Mencurigakan |
|
≥ 2,6 |
Abnormal |
Batas tersebut merupakan panduan skrining pada sistem tertentu, bukan kriteria diagnosis tunggal untuk keratokonus.
Selain BAD-D, beberapa indeks lain seperti ARTmax, pachymetric progression indices, dan parameter biomekanik dapat membantu meningkatkan sensitivitas penilaian risiko ektasia.
Perlu ditekankan bahwa indeks antarperangkat tidak selalu dapat dibandingkan secara langsung karena menggunakan algoritma dan basis data referensi yang berbeda.
7. Angka dalam Evaluasi Pasca Bedah Refraktif
Pada pasien pasca LASIK maupun SMILE, interpretasi tomografi kornea membutuhkan pendekatan yang berbeda dibandingkan kornea yang belum menjalani operasi.
Perubahan nilai keratometri, asphericity, ketebalan, serta aberasi kornea merupakan konsekuensi yang diharapkan setelah tindakan refraktif.
Beberapa parameter yang penting untuk dievaluasi antara lain:
Sebagai contoh, peningkatan coma setelah LASIK atau SMILE dapat menimbulkan kecurigaan adanya ablasi atau zona optik yang tidak terpusat. Namun, peningkatan coma saja tidak cukup untuk menegakkan diagnosis desentrasi. Evaluasi harus mempertimbangkan aberasi sebelum operasi, peta tangensial, pusat zona optik, dan korelasi dengan keluhan pasien.
Demikian pula, nilai keratometri yang relatif datar setelah koreksi miopia tinggi tidak otomatis menunjukkan hasil operasi yang buruk. Interpretasinya harus mempertimbangkan nilai sebelum operasi, besarnya koreksi refraksi, kondisi permukaan okular, dan hasil visual pasien.
8. Mengapa Satu Angka Tidak Pernah Cukup?
Kesalahan yang sering terjadi dalam interpretasi tomografi kornea adalah memberikan perhatian berlebihan terhadap satu parameter numerik.
Sebagai contoh, kornea dengan Kmax 48 D belum tentu mengalami keratokonus apabila distribusi ketebalan, elevasi posterior, dan pola kelengkungan masih normal.
Sebaliknya, kornea dengan Kmax 44 D dapat menunjukkan tanda ektasia dini apabila ditemukan penipisan fokal, elevasi posterior abnormal, serta perubahan indeks pachymetric progression.
Hal yang sama berlaku pada skrining bedah refraktif. Ketebalan kornea 550 µm tidak secara otomatis menjamin keamanan tindakan apabila terdapat tanda keratokonus subklinis atau faktor risiko ektasia lainnya.
Karena itu, interpretasi tomografi kornea sebaiknya dilakukan secara sistematis dengan mempertimbangkan kesesuaian antarparameter, kualitas akuisisi gambar, kondisi klinis pasien, serta perubahan dari pemeriksaan sebelumnya.
Kesimpulan
Tomografi kornea menyediakan berbagai parameter numerik yang memberikan gambaran komprehensif mengenai bentuk, ketebalan, elevasi, dan kualitas optik kornea.
Keratometri, pachymetry, elevasi anterior dan posterior, Q value, aberasi kornea, serta indeks ektasia memiliki peran yang berbeda tetapi saling melengkapi dalam pengambilan keputusan klinis.
Pemahaman terhadap nilai normal, variasi fisiologis, keterbatasan pengukuran, dan relevansi klinis masing-masing parameter menjadi kunci untuk menghindari kesalahan interpretasi.
Pada akhirnya, angka dalam tomografi kornea bukanlah diagnosis, melainkan informasi yang harus diintegrasikan dengan gambaran klinis pasien.
The numbers guide us, but the pattern tells the story.
Tag: HOA elevation BAED